Tujuh menit kulalui. Tiada kawan, lawan. Tak ada tanda-tanda kehadirannya. Telah kunanti dan kuharapkan. Semoga dia datang.
Di taman ini, aku gelisah menantinya. Namun, kucoba menenangkan
diri. Kuambil nafas dari hidungku dan kuhembuskan keluar dari mulutku
perlahan. Angin senja belari di sela-sela telingaku, membuatku terngiang
kata-kata darinya.
“Aku tak akan meninggalkanmu.”
Dengan sekejap terasa ai mataku memaksa keluar dai pelupuk mataku.
Dan kubiarkan mengalir begitu saja. Aku menangis di tengah senja yang
sejuk ini. Merasakan sesuatu yang terasa ganjal dalam hatiku.
“Mengapa aku menangis? Apa yang terjadi dengan Edo?” tanyaku dalam hati.
Air mataku terus berderaian membasahi wajahku. Bayang Edo
mengelilingi benakku. Aku takut jika terjadi sesuatu dengan dirinya.
Kucoba tenang dan kuusap ari mataku yang terus keluar.
Terlihat dari arah barat, seseorang datang menghampiriku. Lengkap dengan kemeja putih rapi, celana jeans hitam,
dan sepatu putih. Dialah Edo yang kutunggu-tunggu. Edo memang terlihat
menawan dengan pakaian sedemikian rupa. Namun, terlihat yang menggannjal
darinya. Wajahnya pucat. Bibirnya putih. Tersirat tanda tanya dalam
pikiranku. Segera aku hampiri dia dan kulingkarkan tanganku ke tubuhnya
seakan aku tak mau pergi darinya.
“Edo, kamu pucat. Tak tega aku menatapmu.” bisikku sembari terus memelukknya.
“Aku tak apa.” jawabnya singkat dengan membalas pelukanku.
Aku tiba-tiba saja menangis di pelukannya. Dadanya yang bidang basah dengan air mataku.
“Sudah, Rena! Tenanglah! Aku tak apa.” hiburnya.
Aku diam sejenak. Dan Edo melepaskan pelukanku. Diulurkannya tangan
ke arahku dan mendarat di pundakku. Edo menekan pundakku dengan maksud
menyuruhku duduk. Kala itu aku terus menangis. Dan tak berani membuka
mata se-mili pun.
Namun, keadaan memaksaku. Kubuka mataku perlahan. Kulirik matanya dan aku tak tega. Aku terus meneteskan air mata.
“Rena, apa yang kau pikirkan? Apa yang ada di benakmu? Kalau kau
menangis seperti ini aku semakin sakit. Tenanglah. Aku tak separah yang
kau pikirkan.” katanya.
Dia mendaratkan mulutnya di keningku dan itu membuatku tenang. Kubuka mataku perlahan dan menatap matanya dalam-dalam.
“Aku tak apa. Edo apa kau sakit? Aku tak suka melihatmu pucat seperti ini.” kataku.
Dia diam sejenak. Membisu di depanku. Matanya terpejam seakan
menyembunyikan sesuatu. Kemudian, muncul sesuatu yang membuat galau
pikiranku. Ditarinya kedua tanganya dan mendarat di sisi rambutnya.
Sepertinya dia memikirkan sesuatu yang mungkin aku tak ada izin untuk
mengetahuinya. Kemudian, dia menarik rambutnya sekencang mungkin dan
menembuskan nafas perlahan.
“Aku tak apa.” jawabnya singkat.
Aku tak bisa bilang apapun kepadanya. Dan di senja itu kami
terdiam. Tak ada kata yang muncu dari kedua mulut kami. Itu adalah
pertemuan paling singkat sekaligus paling menjemukan.
Tubuhku terbaring di ranjang. Memikirkan Edo seorang. Tiga belas
hari lagi adalah hari lahirku. Aku ingin di umurku yang ke dua puluh ini
mendapat kejutan darinya. Namun, itu tak mungkin karena aku sedang tak
ada komunikasi dengannya. Atau bisa dibilang kami ribut.
Kuambil selembar foto yang menempel di dinding kamarku. Fotoku
dengan Edo empat tahun lalu. Kala itu aku masih kawan dengannya. Dan tak
ada rasa cinta sepercik pun di hatiku untuknya. Aku tersenyum melihat
foto itu dan membayangkan kejadian lalu. Di kala itu Edo masih terbilang
remaja nakal, jail, dan menyebalkan. Siswa yang digosipkan tertampan di
sekolahku dan faktanya memang benar. Bahkan, aku sempat menyukainya dan
dulu masih dibilang mustahil untuk menjadi kekasihnya, karena aku dulu
pendiam dan masih lugu. Teringat aku kala dia menyatakan rasa cintanya
kepadaku tepat di saat hari lahirku. Kala itu kami berasa di taman yang
biasanya kami tempati sampai saat ini. Dia berteriak sekeras mungkin
untuk menyatakan cinta itu dan aku merasa malu saat itu karena banyak
teman yang menyaksikan kejadian itu.
“Kringggg….” suara jam weker.
Suara jam weker membangunkan lamunanku. Aku segera pergi ke rumah
Edo untuk menemuinya dan mencari tahu keadaanya, karena sudah delapan
hari ini aku tak berkomunikasi dengannya.
Di tengah perjalanan entah mengapa langkahku semakin cepat. Aku
ingin segera bertemu dengannya dan melepas rindu. Namun, kala lima puluh
meter aku melihat mobil Avanza silver melewatiku. Kulihat
sepintas dari jendela mobilnya, ada sepasang manusia ada di dalam mobil
itu. Tapi, aku sangat ingin mengetahui siapa mereka. Entah mengapa aku
tak tahu. Setelah mobil itu lewat aku berpikir dalam tentang mereka yang
yang berada di dalam mobil itu.
“Sudah.” batinku dan melangkahkan kaki kembali.
Sampai di rumah Edo terlihat sepi. Segera kuketuk pintunya yang
besar dan memanggil-mangil Edo. Namun, tak ada yang membukakannya. Aku
tak suka keadaan seperti ini dan aku berniat duduk bersandari dinding
dengan kakiku terjulur. Baru tiga menit dalam keadaan seperti itu aku
tertidur pulas di depan rumahnya.
“Non..Non..bangun!”
Mendengar suara itu aku tersentak. Segera aku benahi diri dan bangun dari tempatku tidur tadi.
“Ehh, Bi! Maaf, ya? Edo ada, Bi?” tanyaku dengan membersihkan dan merapikan tubuhku.
“Baru saja pergi, Non.” kata Bibi itu.
Pikiranku sudah kemana-mana. Apa mungkin sepasang manusia yang ada
di dalam mobil tadi Edo dan wanita selingkuhannya. Aku sedih
membayangkannya.
“Ya, sudah. Terimakasih, Bi.” kataku.
Aku lari dari rumah Edo. Menutup mulutku dan menangis di tengah
jalan sembari memikirkan mereka yang tengah dalam perjalanan entah
kemana. Sesampai di rumah segera aku masuk kamar dengan membanting pintu
sekencang mungkin. Ibu yang melihatku segera menghampiriku di kamar.
“Rena. kamu kenapa? Ren, Rena!” teriak ibu sembari mengetuk-ketuk
pintu kamarku. Aku tak mempedulikan ibu, dan terus menangis. Aku juga
tak menjawab pertanyaan ibu. Aku menangis di kamar tak henti-henti. Aku
tak percaya Edo sekejam itu kepadaku. Delapan hari tak bertemu
dengannya. Delapan hari tak berkomunikasi dengannya. Dan tepat hari ke
delapan aku sakit hati olehnya. Apakah Edo sekejam itu kepadaku?
Lima hari aku berada di kamar tak mau keluar. Ibu sepertinya
khawatir denganku karena setiap hari ibu terus mengetuk-ketuk kamarku.
Setiap hari ibu masuk kamarku hanya untuk memberiku makan dan mangambil
piring dan gelas kotor untuk aku makan. Sepertinya ibu takut menanyai
soal apa yang tengah aku rasakan.
“Edo, mengapa kau seperti itu. Apa salahku Edo?” batinku.
Lima hari terkurung dalam kamar. Menangis tak henti-henti. Bahkan aku tak sadar hari ke tiga belas itu tepat hari lahirku dan anniversary tiga
tahun aku menjalin cinta dengan Edo seorang. Tapi selam tiga belas hari
sebelum itu aku merasakan sakit hati yang teramat dalam.
Pagi hari, di kala hari lahirku aku terbangun dengan bunga di
sisiku. Kue di meja kamarku. Kado-kado mengelilingi ranjangku. Aku
terbangun masih mengenakan baju tidurku. Kulihat di lantai banyak bunga
mawar merah beberapa tangkai berbaris. Kuambil satu-persatu mengikuti
arah bunga itu dan itu menuju pintu. Aku ragu untuk membuka pintu.
Namun, setelah aku pikirkan matang-matang aku buka pintu itu dan
terlihat banyak bunga di depan pintuku. Kuambil dan kuikuti arah bunga
itu.
Bunga itu menuju luar, kembali aku ragu. Aku langkahkan kaki
perlahan tak ada siapa-siapa. Aku terus ikuti bunga itu sampai menyusuri
jalan raya. Beberapa orang pun memberiku bunga mawar merah namun
anehnya mereka memakai baju hitam. Awalnya aku tak mau menerimanya,
namun orang-orang itu memaksa. Aku terus menyusuri jalan penuh bunga
mawar itu, bahkan aku sampai tak sadarkan diri aku tak mengenakan
sandal. Sudah panjang jalasn yang aku lalui, tak ada tanda-tanda apapun.
Yang ada hanya bendera kuning dan bunga mawar di atas jalan.
“Bendera kuning? Apa ada yang meninggal?” kataku sembari mengambil bendera kuning itu.
Aku berpikir sejenak, jalan ini adalah seratus meter sebelum rumah
Edo. Dan aku tiba-tiba teringat Edo. Segera aaku ambil bunga di jalan
secepat mungkin dan benar adanya. Bunga itu menuju rumah Edo. Terlihat
di sana orang memakai pakaian serba hitam dan aku melihat beberapa orang
yang memberi aku bunga di jalan tadi menatapku dengan muka sedih.
Pikiranku seudah kemana-mana. Sampai di depan pintu terbaring seseorang
tertutup dengan kain. Melihat itu aku segera berlari dan menghamburkan
bunga-bunga yang aku bawa.
“Edo…! Edo..!” teriakku menghampiri Edo yang terbaring lemah tanpa daya.
Aku menangis tak henti-henti. Kubuka kain di wajahnya dan itu benar
Edo adanya. Aku menangis berteriak seakantak mempercayai yang telah
terjadi. Aku tak percaya mayat yang ada di depanku adalah orang yang
sangat aku cintai. Orang yang selama tiga tahun mengisi hatiku, menemani
hidupku, mengasihiku, sekarang terbaring tanpa daya tanpa suara. Tubuh
Edo aku guncangkan. Aku terus menangis dan meneriakku Edo.
“Edo, aku rindu kamu. Aku tak kuat jika kau seperti ini. Edo bangun
Edo bangunlah. Aku butuh kamu, Edo. Aku butuh kamu sekarang. Hari ini
hari ulang tahunku. Hari ini hari tiga tahu kita bersama. Aku ingin
sampai aku mati kamu tetepa di sampingku Edo. Mana janjimu? Bangun Edo
bangun!” teriakku, tangisku.
Terus aku guncangkan tubuh Edo. Kupeluk tubuh Edo erat-erat kucium
kening dan bibirnya perlahan. Aku menangis di sisinya. Seseorang yang
aku cintai sekarang pergi di hadapanku. Aku memandang dia untuk terakhir
kali. Aku tak mampu ditinggalnya, aku tak kuat. Aku tak mau kehilangan
Edo. Aku tak mau. Edo, seseorang yang sangat mengerti aku, dan besok tak
ada yang mengertikanku lagi. Besok Edo sudah terselimuti tanah. Sudah
lenyap, dan itu sangat sakit kurasakan. Aku terus menangis di atas tubuh
Edo.
“Anda yang bernama, Rena?” kata seorang wanita di belakangku sembari memelukku.
Aku tak menjawab.
“Edo sayang kamu. Sudah tiga tahun ini dia di vonis dokter kanker
darah. Dan umurnya habis sampai hari ini. Selama tiga belas hari lalu
Edo menyusun semua ini. Edo membeli bunga, menyiapkan kejutan ini.
Selama tiga belas hari kalian tidak bertemu, tidak berkomunikasi. Bukan
berarti dia mengkhianatimu, justru dia menyiapkan semua ini dan ini lagu
yang ia ciptakan buatmu. Semoga jadi kado terindahmu.” kata wanita itu.
Kuambil kaset dan kepingan CD yang ia berikan. Aku terus menangis dan ibu juga demikian. Memelukku sembari menangisi Edo.
Kala pemakaman Edo, aku hanya menangis bahkan aku ingin ikut
dikubur dengannya. Aku bahkan sempat pingsan melihat Edo ditaburi tanah,
da tertutup tanah. Aku lemas tak berdaya. Aku terus menangis. Dan aku
masih tak percaya ini semua. Memang kejutan terindah yang aku alami.
Satu tahun kehilangan Edo membuatku tak lupa tentang Edo. Kaset
yang berisi lagu, dan kepingan CD yang berisi sepenggal video dengan
durasi dua jam tak bosan-bosat aku tonton. Hanya sekedar untuk melepas
rindu walau penuh tangis aku melihatnya.
Rena, jangan menangis aku tahu disana kamu menangis. Aku di
sini bahagia. Kamu harus lebih bahagia. Jangan menangis lagi.
Tersenyumlah. Aku masih sayang kamu. Walau sekarang faktanya aku tak ada
di sisimu, tapi aku terus di hatimu. Percayalah, setiap waktu aku
mendampingi langkahmu. Bayangkan aku ada di sampingmu sekarang. Dan aku
memang benar di sampingmu sedang memelukmu. Kuatkan hatimu. Aku sayang
kamu. Jangan tangisi kepergianku terus. Aku tak ingin kamu menangis.
Jangan menangis sayang! Aku selalu ada di sampingmu. Tak akan
meninggalkanmu.Video dan kaset ini menjadi perantara bicaraku di bawah
tanah denganmu yang bahagia di dunia.
No comments:
Post a Comment