Sayapku tak mampu terbang lagi, terbang untuk menghampirimu.
Walau diriku tak lagi bersandar denganmu, tapi bayangmu masih
mengitari anganku. Aku disini hanya sendiri. Sanak tak ada, saudara
entah kemana, kawan serta lawan tak tahu kabarnya. Walau bunga masih
tersenyum bermekaran, tapi hatiku tak mungkin bisa bermekar karena
hatiku layu oleh pengkhianatan. Sabar, sabar, dan sabar memang itu sifat
yang kuutamakan.
Galau memikirkanmu. Itu aktivitasku tiap hari. Di malam ini, aku
sendiri. Di lantai atas, di dalam kamarku. Aku duduk termenung
bersandar dinding. Kurekatkan daguku dengan lutut yang kunaikkan.
Kulingkarkan kedua tangan di lututku. Mata sendu yang tanpa lelah
menatap dunia ini perlahan menutup. Mulai memikirkan masa lalu,
masa-masa indah dengan dirimu. Perlahan muncul sesosok wanita cantik
dalam gelap itu dalam bayang semuku, bersinar wajahnya, tergurai rambut
panjang hitamnya, matanya seolah mencoba berbicara dengan siapa yang
melihatnya, dan tersirat makna indah dalam dirinya. Dan itu dirimu.
Semua masa lalu seolah tergambar begitu saja dalam anganku. Teringatnya,
teringat masa silam, perlahan air mataku mengalir. Teringat kala kau
mengusap air mataku saat aku bak jelata, teringat kala aku susah kau
ikut gelisah. Dan teringat saat aku terpukul kau merangkul.
Di tengah derai hujan ini, aku menangis tak henti-henti. Mungkin
aku merasakan sakit masa lalu atau aku ingin mengulang itu. Kubuka
perlahan mataku yang penuh dengan luh. Kupandang sekeliling dan
kutemukan fotomu menempel di dinding sampingku. Kuulurkan tangan dan
kuambil perlahan. Menatap wajahmu di bingkai itu buatku menangis
kembali. Entah takdir apa ini aku kehilangan orang yang aku cintai.
Kubaringkan tubuh lelah ini di kasur. Kututup mataku dan fotomu singgah
tepat di dadaku. Aku terlelap dan berharap aku memimpikan masa lalu
dengan gadisku.
Kala esoknya, aku teringat sepuluh tahun yang lalu. Tepatnya
tanggal 7 Desember 1997. Dan aku masih ingat itu. Aku duduk termenung di
sudut taman sembari membawa secarik kertas tak berpena di tangan kiri
dan dan pensil terjepit di bawah ibu jari tangan kiriku. Aku bermaksud
mencoba membuat beberapa bait puisi, Tapi itu mustahil. Aku tak biasa
menulis dengan tangan kiri.
‘’Apa aku memang Kau takdirkan seperti ini?” gumamku.
‘’Aku ingin punya potensi seperti yang lain, tolong berikan! Aku sudah terlalu lemah!” lanjutku.
Aku mengeluh. Karena putus asa, kugerakkan kursi berjalan ini maju mundur dengan maksud untuk pergi meninggalkan taman.
‘’Aarghhh… kenapa kursi tua ini?’’ teriakku.
Kursi rodaku tak dapat berjalan. Entah mengapa aku tak tahu.
Wajahku panik hingga mengeluarkan banyak keringat. Aku pun turun
perlahan dari kursi roda tua itu dengan bantuan tangan kiriku dan pohon
di sampingku.
“Bruukkk.’’
Aku terjatuh dengan pergelangan tangan kananku yang tanpa daya ini
tertekuk. Terasa sangat nyeri, namun kulupakan. Kucoba perbaiki kursi
rodaku satu-satunya ini. Ya, pasti dengan tangan kiriku karena tangan
kananku tak ada daya dan aku pun tak bisa berdiri karena dua tahun yang
lalu ragaku terlibat peristiwa hebat di rel kereta api. Aku berjalan
dengan kawanku pulang dari pusat kota dengan membawa gitar kecil atau
yang biasa disebut kentrung di tangan kananku memakai pakaian kotor layaknya punk.
Dengan Supri, teman sepermainanku dari kecil. Ia berkulit putih dan
berbadan besar. Sekilas memang dia terlihat seperti preman. Namun, dia
punya hati yang baik dan lemah lembut. kami berjalan berdua menyeberang
rel kereta api karena gubukku berada di samping bawah rel kereta api
itu.
‘’Ayo, ta, Pri! Cepet! Ini palang sepurnya gak turun, lho!’’ kataku dengan logat jawaku.
‘’Eh, bentar, lho! Siapa tahu rusak iku palangnya!’’ bantah Supri dengan logat jawanya pula.
Aku tak mempedulikan Supri dan langsung menarik tangan kirinya.
Sewaktu berjalan di atas rel, aku berhenti sejenak karena kurasa mataku
terkena sesuatu. Kucoba mengusap mataku. Terdengar suara bising dari
samping kanan namun kuhiraukan. Sesaat aku pun sadar. Aku kaget,
kupandang asal suara itu sembari masih mengusap mataku. Terlihat
samar-samar. Aku tak tahu kalau itu kereta api.
‘’Wahyu! Iku sepur! Minggir!’’ teriak Supri sembari menarik tanganku.
Aku tersentak dan segera melangkah dari rel namun sia-sia. Kakiku
tertabrak dan tubuhku terseret 50 meter dari tempat tersebut. Tubuhku
terpelanting dan terguling. Tangan kananku tertekuk dan patah. Aku
pejamkan mataku tak mau melihat apa yang terjadi. Dan kurasa aku tak
sadarkan diri.
Dua jam kemudian, aku sadarkan diri. Kulihat aku ada di ruangan
bercat putih dan aku pun diselimuti kain berwarna putih jua. Terdapat
selang di tanganku dan di atas hidungku. Tak ada seseorang di sisiku
kecuali dia Supri. Kupandang wajahnya, terlihat dia seperti orang panik
dan gelisah.
‘’Hai, Wahyu! Gimana awakmu?’’ kata Supri samar-samar di telingaku sembari membelai tanganku.
Aku tak menjawab hanya diam.
‘’Tadi kakimu tertabrak sepur! Awakmu mental 50 meter. Aku marani sampean, teriak-teriak minta tolong. Akibatnya, iku kakimu gak ada satu. Tanganmu patah. Badanmu lecet-lecet. Salahmu, sih, gak denger aku! Ceroboh, sih, sampean!’’ kata Supri sembari membuka selimutku.
Aku tengok ke dalam, ternyata benar adanya. Kaki kananku, lenyap
tak ada. Aku cacat. Aku tak percaya ini semua. Aku menjerit sekeras
mungkin.
‘’Aarrrghhhhhhhhhh…..!!!!”
Kucoba mengangkat tangan kananku, namun tak bisa. Aku semakin keras
menjerit. Tangan kiriku kuangkat perlahan dan menarik rambutku
kuat-kuat.
‘’Aaaarrrgghhh….!!! Ya, Allah Gusti! Supri gimana iki! Supri!! Arrgghhh…!!’’ aku menangis dan berteriak sekeras mungkin.
“Wis, wis! Sampeyan gak boleh gitu. Ini cobaan, Wahyu. Sampeyan seharusnya bersyukur masih hidup! Wis, wis!’’ hibur Supri sembari menurunkan tangan kiriku.
Aku berhenti mengamen di ibukota dan Supri-lah yang merawatku. Soal
biaya rumah sakit aku tak tahu dan aku pun mana peduli. Namun, tiga
bulan setelah aku pulang dari rumah sakit, Supri tiba-tiba saja pergi
dari rumah susun ini tanpa kabar hanya meninggalkan secarik kertas yang
berisi tulisan :
Daa..daa Wahyu !!
Salam sayang,
Supri Arek Malang
Aku tak tahu itu berisi apa dan bertujuan apa. Supri sungguh tega
tapi aku hutang budi dengannya. Baru pertama ini dia berani
meninggalkanku dan sendiri, padahal dulu sering pergi berdua,
bergandengan pula. Dan surat itu akan aku simpan.
Aku pun hidup sendiri dan apa-apa sendiri. Aku meninggalkan rumah
susun itu dan bekerja ulur tangan di samping jalan. Sekitar dua bulan
kemudian, aku tak lagi bekerja layak itu karena aku ditarik SATPOL PP
dan dimasukkan ke pusat rehabilitasi di daerah ibukota bagian selatan
dan hidup di sana sampai sekarang.
Aku terkaget saat kurasakan ada sentuhan di pundakku. Dan dengan rasa penasaran aku mencoba menolehkan mukaku ke belakang.
“Ada yang bisa saya bantu?” katanya.
Melihatnya aku tak bisa apa-apa. Matanya berbinar-binar. Suaranya
lembut. Wajahnya mempesona bak Lady Diana. Badannya ramping tapi
atletis, tinggi semampai. Rambutnya hitam panjang tergurai.
“Ayu tenan, Rek!” refleksku sembari terus menatapnya.
“Maksudnya?” tanyanya heran.
Dengan sigap segera aku benahi bajuku dengan tangan kiriku. Merapikan rambutku dan menampilkan wajah manis di depannya.
“Ehh…ehhh, nggak apa-apa. Cuma ada kesalahan teknis kok!” kataku berusaha dengan bahasa gaul anak zaman sekarang.
“Bisa aku bantu berdiri?” tawarnya sembari mengulurkan tangan kirinya.
“Manteb iki!” kataku dalam hati.
Dengan tersenyum aku ulurkan tangan kiriku. Dia membalas senyumku
dengan senyum manisnya. Dia bantu aku berdiri, dia rangkul punggungku
dan itu buatku merinding, karena baru kali ini aku disentuh wanita yang
amat cantik. Ya, bukan berarti dulu jelek-jelek.
Aku duduk di kursi rodaku. Tanpa basa-basi dia langsung mendorong
kursi rodaku perlahan, membawakan kertas dan pensilku dan mengajakku
mengelilingi taman kota. Tak terasa jantungku berolahraga. Berdegup
sangat cepat. Aku malu dan sungguh sangat malu. Dan timbullah rasa tak
percaya diri dalam diriku. Aku manusia yang sangat tak sempurna sedang
berjalan-jalan dengan wanita cantik yang sangat sempurna.
Kupandang wajahnya, dan kutatap matanya dalam-dalam. Aku mencoba
mencari perhatian darinya. Dan kurasa itu tak sulit. Ia langsung saja
tersenyum kepadaku dan mengajakku berbincang-bincang.
“Rumah kamu dimana?” katanya.
“Aku tinggal di belakang taman.” jawabku singkat.
“Ke sini sama siapa?”
“Sendiri. Aku bosan di sana. Tak ada kerjaan, tak ada teman pula.”
“Terus ke sini mau ngapain? Sama saja di sini juga bosenin.”
Belum sempat menjawab, ia menghentikan lajunya dan berjalan tak
jauh ke belakang. Kutengok, rupanya ia tengah berbincang-bincang lewat
telepon genggamnya. Aku hampiri dia pura-pura tak tahu. Belum sampai di
tempatnya, ia langsung membalikkan badan dan menghampiriku.
“Dari siapa?” tanyaku.
“Nggak, nggak siapa-siapa, kok. Oh, ya, tadi disini tujuannya apa?” jawabnya.
“Oh, ini mau buat latihan nulis dengan tangan kiri. Aku mau coba
buat puisi. Waktu SMP dulu aku, kan, juara lomba puisi. Mau aku coba
kembangkan lagi.”
“Hmmm… ya, bagus ! Boleh, aku bantu? Kapan-kapan bisa, kok, aku pergi ke tempatmu.”
Aku hanya menjawabnya dengan tersenyum dan menganggukan kepalaku.
Dan dia menceritakan beberapa hal tentang pengalamannya, kehidupannya,
dan keluarganya. Aku pun demikian. Dengan jujur, kuceritakan semua yang
menimpa diriku. Mulai dari kecelakaan dulu, pekerjaanku yang hanya
mengamen, dan keluargaku yang hilang entah kemana. Sebenarnya ada
sedikit rasa malu pada diriku tentang semua itu. Sejak kecil aku memang
terkenal dengan orang yang pemalu, walaupun perawakanku gagah dan
wajahku sekilas terlihat sadis. Namun, bagaimana lagi? Aku tak ingin
gadis cantik itu kecewa.
“Ehh..siapa namamu?” tanyaku malu.
“Oh, ya, lupa. Kita belum kenalan. Perkenalkan aku Putri.” jawabnya dengan mengulurkan tangan lembutnya.
“Namanya indah seperti wajahnya.” batinku.
“Ehh..ehhh, namaku Wahyu.” kataku dengan menganggukan kepalaku dan membalas jabatannya.
Kupikir Putri adalah gadis yang sangat baik. Mau berteman dengan
siapapun tak memandang apapun. Buktinya, dia mau berteman denganku
walaupun fisikku seperti ini. Tapi, aku juga tak tahu kehidupan Putri
bagaimana dan aku berniat ingin mengenalnya lebih dekat. Sangat berharap
untuk bisa menjadi orang istimewa di hatinya.
Dua tahun aku berteman dengan Putri. Tak terlihat hal aneh dan
buruk darinya. Itu pun tak aku pikirkan. Karena aku hanya memikirkan
kebaikan dari seorang Putri yang baru-baru ini telah meluluhkan hatiku.
Senja hari, seperti biasanya Putri datang ke tempatnya dengan
membawa kue. Ia hari ini sungguh lain. Rambutnya yang biasanya terurai,
hari ini di ikat setengah memperlihatkan ia wanita yang anggun dan
kalem. Biasanya memakai baju bluss panjang, hari ini ia memakai celana jeans ketat putih dan tank top
ditutupi dengan jaket kuning yang pas di badannya. Semua temanku
memandang Putri dengan penuh gairah, seperti juga aku. Aku yang biasa
malu dengannya, melihat penampilannya hari ini, aku seperti ditarik
olehnya. Aku menjadi agresif dengannya, dan rasa maluku itu lenyap
begitu saja. Dan aku berpikir, apa Putri seperti itu memang disengaja
agar semua lelaki mengagumi tubuh indahnya? Kalau begini terus
keadaannya, lama-lama aku bisa juga muncul birahi dengannya.
“Hai, Wahyu! Gimana penampilanku hari ini? Cantik, kan? Oh, iya,
bagaimana puisimu? Sudah selesai?” katanya sembari melingkarkan
tangannya di pundakku.
Hatiku berdesir karena terlihat sesuatu dari tubuhnya. Dan aku pun tak mau melihatnya.
“Ya, Allah! Astagfirullahal’adzim. Paringana kekuatan, ya, Allah.” kataku perlahan dengan memejamkan mata.
“Hai, jawab Wahyu! Kagum, ya, kamu? Jangan malu-malu dirimu.” tanyanya sekali lagi dengan mendekatkan mulutnya ke telingaku.
Aku semakin takut dan terus memejamkan mataku. Lalu, aku berusaha
tak menunjukkan rasa takutku dengan perlahan membuka mataku perlahan.
“Ehhh..ehhh, iya. Sudah, kok, aku ambilkan sebentar!” jawabku sembari menuju kamarku.
Lima menit kemudian, aku menemuinya yang tengah asyik
berbincang-bincang dengan teman-temanku. Putri duduk di tengah-tengah
mereka. Dan ia selalu menunjukkan sikapnya yang centil. Kulihat
tingkahnya, muncul suatu hal dalam pikiranku. Apa itu dirinya
sebenarnya?
“Ehm.” gumamku memecah suasana.
“Eh, Wahyu. Sudah, ya? Ayo, pergi ke taman!” katanya sembari menghampiriku dan memutar kursi rodaku.
“Daa..daa, semuanya!” teriakknya dengan melambaikan tangan ke arah teman-temanku.
Dalam perjalanan, ia terus berbicara dan aku hanya diam tak
menjawab sedikit pun kata darinya. Aku sedikit mual dengan sikapnya,
namun, hati ini terus menginginkannya walau itu mustahil.
“Putri, berhentilah bersikap itu tadi! Aku tak suka.” kataku tak menatapnya.
“Kamu tak suka denganku? Kamu benci denganku? Maafkan aku !” katanya.
“Jangan sedih! Aku hanya menasihatimu! Aku suka kamu yang dulu.
Anggun, kalem, baik hati. Berubah, ya, demi aku! Aku sayang kamu, kok.”
kataku menghiburnya.
“Iya. Maaf, ya. Aku seperti ini karena aku pikir kau lebih suka dengan aku yang seperti ini.” katanya.
“Tidak, Putri. Aku suka dirimu, hatimu, dan sikapmu yang dulu.
Karena itu semua telah meluluhkan hatiku. Kamu mau berbagi hidup
denganku?” kataku dengan memberanikan diri.
Dia hanya menganggukkan kepala tanda bahwa dia setuju. Aku sangat
bahagia. Aku bisa menggandeng gadis cantik sepertinya. Percaya diriku
tumbuh lagi. Aku kini menjadi lelaki paling beruntung di dunia karena
mendapatkan gadis seperti Putri. Dan mulai hari itu, Putri seperti dulu
lagi dan aku menjalani kehidupanku dengan semangat baru karena Putri.
Hatiku sudah terisi penuh dengan Putri seorang. Hidupku sudah berbeda
lagi dan berubah karena Putri. Memang dialah gadisku.
Aku pun sangat bersyukur punya gadis seperti dia dan berkali-kali
meminta doa kepada Yang Kuasa agar membuka hati Putri agar ia seterusnya
mau bersanding denganku. Dan doa itu tak dikabulkan adanya.
Baru satu tahun aku menjalani cinta dengannya, ia meninggalkanku
begitu saja tanpa kabar. Aku berusaha mencarinya namun sia-sia.
Hampir-hampir saja aku tertabrak truk pasir karena ketidakkonsentrasiku karena aku hanya memikirkan Putri.
“Putri, dimana dirimu, Sayang? Aku mencarimu. Datanglah sekarang!” batinku.
Aku datang ke beberapa orang, bertanya dimana Putri tinggal. Ada
yang memberiku uang receh, ada yang menangisiku. Aku tak peduli, hanya
Putri yang aku inginkan tidak itu semua.
Akhirnya aku beristirahat di depan di rumah besar berbentang janur
kuning di depannya. Hatiku merasa tak tenang setelah aku melihat foto
gadis dengan lelaki berpakaian pengantin di samping janur tersebut. Dan
itu tak asing karena gadis itu adalah Putri dan lelaki itu kupikir dia
Supri. Berbeda, terlihat di foto dia lebih putih dan gagah. Perlahan air
mataku menetes. Dengan menumpuk rasa penasaran, aku masuk ke dalam
rumah besar itu.
“Putrii…Putri…!” teriakku sembari menangis.
Penjaga di sana melarangku untuk masuk tapi aku tak peduli.
Berteriak dia dengan sekeras mungkin. Memang bandannya tegap, dan
gagah. Teriakannya lantang dan sikapnya keras.
“Kamu tak ada izin di sini ! Keluar gembel !” larang penjaga.
Hanya satu yang aku pikirkan, yakni Putri. Semua tamu disana
memandangku dengan terheran-heran. Penjaga menghalangi langkahku,
menarik lengan bajuku hingga sobek di sisi kiri. Kubiarkan saja, terus
aku melangkah. Tak peduli aku cacat, tak peduli banyak hinaan, dan tak
peduli bajuku sobek compang-camping layaknya pengemis.
Ternyata dia benar Putri adanya. Dan disampingnya adalah sahabatku
Supri. Aku benar-benar tak percaya. Aku terus meneteskan air mata.
Semua tamu memandang ke arahku sembari bertanya-tanya. Aku memutar kursi
rodaku di tengah-tengah barisan tamu dengan menangis dan
berteriak-teriak.
“Putri, aku sayang kamu, Putri. Mengapa kamu begini? Apa sebenarnya
maumu?(aku terus menangis) Putri, kita sudah satu tahun menjalin
hubungan. Kemarilah !” teriakku didepannya sembari membungkukkan
tubuhku.
“Wahyu ! Apa yang kamu lakukan? Ini Putri istriku! Tak patut kau seperti ini.” bentak Supri.
“Supri kamu diam! Ini Putri pacarku. Kau pengkhianat Supri.” teriakku.
Aku terus menangis di hadapan mereka. Dan terdengar juga suara
tangis dari tamu-tamu yang datang. Sepertinya mereka kasihan denganku.
“Wahyu, aku tak pernah mencintai orang cacat macam kamu. Tak pernah
dan sekalipun tak pernah. Tak sudi aku punya lelaki cacat, dan miskin
seperti kamu.” sindir Putri dengan mendorongku.
Aku jatuh ke belakang dan keluar dari kursi rodaku. Beberapa dari
tamu itu membantuku kembali duduk di kursi roda. Di depan mereka, aku
merobek puisi yang telah basah oleh air mataku. Aku meninggalkan neraka
itu dibantu penjaga yang melarangku tadi. Dengan susah payah, dengan
lelah, aku mengayuh dengan satu tangan kiriku.
“Pengkhianat kalian. Biadap !!” teriakku sembari keluar dari neraka tersebut.
Teringat itu semua. Terbayang masa semu dahulu yang tiba-tiba
memeluk pikiranku. Andaikan itu semua bisa terulang, akan kuulang.
Namun, tak mau merasakan sakit itu. Andaikan bisa diubah, pasti kuubah.
Namun, itu tak mungkin adanya.
“Ya, Allah Gusti! Berilah kesabaran ! Mengapa Kau beri cobaan yang
sangat berat? Apa salahku, ya, Allah? Aku, kan, sudah sholat, bersujud,
menyembahmu, berbuat baik, dan aku sudah beribu-ribu kali memuji-Mu, ya,
Allah!” kataku di sela tangis.
Aku menangis di balkon. Sebenarnya aku malu menangis terisak-isak
seperti ini, disaksikan banyak kawan di belakangku. Awalnya aku tak
mengetahuinya. Namun, setelah terdengar seseorang terisak-isak aku
segera menolehkan wajahku. Terlihat Roni menundukkan kepalannya dan
mengusap-usap matanya. Aku tak menduga, tubuhnya yang kekar dan berotot,
sikapnya yang selalu kasar dengan siapapun bisa juga menangis. Apalagi
hanya sebab kecil seperti ini. Aku segera membersihkan wajahku dari
deraian air mataku.
“Wahyu, macam mana kau ini! Aku tak pernah menangis sekalipun.
Sungguh tega kau, Wahyu! Turun, lah, pangkatku jadi preman suku! Kau
ini dari luar saja badanmu besar, tapi cengeng juga kau ini ! Sudahlah,
jangan nangis ! Senyum.” kata Roni.
Aku pun tersenyum melihatnya. Demikian pula dengan kawan lainnya.
Rasanya sakitku sedikit berkurang. Aku tak menyangka Roni begitu
perhatian denganku. Roni menghiburku. Penghibur yang menghilangkan
laraku. Melihat tawa mereka aku teringat Supri. Dia sahabat satu-satunya
yang mengerti aku. Dia pun juga sahabat satu-satunya yang
mengkhianatiku. Dan itu sekali kurasakan memang sangat perih. Kala
teringat itu semua aku buka surat singkat Supri lalu. Kubaca hanya dua
kata singkat. Rasa penasaranku memaksa naik, aku bolak-balik kertas itu
dan kutemukan tulisan kecil di pojok kanan bawah. Kuamati dengan seksama
tulisan itu yang ternyata berbunyi :
Supri ! Aku sudah dapat jodoh ! Aku orang kaya !
Aku tersentak dengan tulisan itu. Aku pun tak menduga Supri menulis
kata-kata seperti itu dan mengapa harus ditulis di tempat terpencil di
sudut kertas. Padahal, sejak awal bertemu dengan Putri, aku sudah yakin
dia kasihku, dia cintaku, dan dia pemilik hatiku. Apalagi dengan Supri.
Supri yang kukenal dulu tak pernah sekalipun menyakitiku,
mengkhianatiku, bahkan membuatku menangis sampai seperti ini. Mereka
memang pengkhianat. Berhati kotor, tak punya perasaan sedikitpun, dan
hanya mengandalkan buai-buai omong kosong yang meluncur begitu saja dari
mulutnya. Aku harus sabar dan tabah menghadapi ini semua, dan aku
memang benar-benar sabar.
Dan aku pun berniat. Hingga esok, aku tak akan mengingatnya,
mengasihaninya, bahkan memberinya senyum sedikitpun. Walau, masih
tersisa titik cinta kecil di hati ini, aku harus menghapusnya. Dan
kekelabuan itu akan kutelan walau dengan terpaksa.
No comments:
Post a Comment