Monday, October 15, 2012

Kelabu



Sayapku tak mampu terbang lagi, terbang untuk menghampirimu. Walau diriku tak lagi bersandar denganmu, tapi  bayangmu  masih  mengitari anganku. Aku disini hanya sendiri. Sanak tak ada, saudara entah kemana, kawan serta lawan tak tahu kabarnya. Walau bunga masih tersenyum bermekaran, tapi hatiku tak  mungkin bisa bermekar karena hatiku layu oleh pengkhianatan. Sabar, sabar, dan sabar memang itu sifat yang kuutamakan.
Galau memikirkanmu. Itu aktivitasku tiap hari. Di malam ini, aku sendiri. Di lantai atas, di dalam  kamarku. Aku  duduk  termenung  bersandar dinding. Kurekatkan daguku dengan lutut yang kunaikkan. Kulingkarkan kedua tangan di lututku. Mata sendu yang tanpa lelah menatap dunia ini perlahan menutup. Mulai memikirkan masa lalu, masa-masa indah dengan dirimu. Perlahan muncul sesosok wanita cantik dalam gelap itu dalam bayang semuku, bersinar wajahnya, tergurai rambut panjang hitamnya, matanya seolah mencoba berbicara dengan siapa yang melihatnya, dan tersirat makna indah dalam dirinya. Dan itu dirimu. Semua masa lalu seolah tergambar begitu saja dalam anganku. Teringatnya, teringat masa silam, perlahan air mataku mengalir. Teringat kala kau mengusap air mataku saat aku bak jelata, teringat kala aku susah kau ikut gelisah. Dan teringat saat aku terpukul kau merangkul.
Di tengah derai hujan ini, aku menangis tak henti-henti. Mungkin aku merasakan sakit masa lalu atau aku ingin mengulang itu. Kubuka perlahan mataku yang penuh dengan luh. Kupandang sekeliling dan kutemukan fotomu menempel di dinding sampingku. Kuulurkan tangan dan kuambil perlahan. Menatap wajahmu di bingkai itu buatku menangis kembali. Entah takdir apa ini aku kehilangan orang yang aku cintai. Kubaringkan tubuh lelah ini di kasur. Kututup mataku dan fotomu singgah tepat di dadaku. Aku terlelap dan berharap aku memimpikan masa lalu dengan gadisku.
Kala esoknya, aku teringat sepuluh tahun yang lalu. Tepatnya tanggal 7 Desember 1997. Dan aku masih ingat itu. Aku duduk termenung di sudut taman sembari membawa secarik kertas tak berpena di tangan kiri dan dan pensil terjepit di bawah ibu jari tangan kiriku. Aku bermaksud mencoba membuat beberapa bait puisi, Tapi itu mustahil. Aku tak biasa menulis dengan tangan kiri.
‘’Apa aku memang Kau takdirkan seperti ini?” gumamku.
‘’Aku ingin punya potensi seperti yang lain, tolong berikan! Aku sudah terlalu lemah!” lanjutku.
Aku mengeluh. Karena putus asa, kugerakkan kursi berjalan ini maju mundur dengan maksud untuk pergi meninggalkan taman.
‘’Aarghhh… kenapa kursi tua ini?’’ teriakku.
Kursi rodaku tak dapat berjalan. Entah mengapa aku tak tahu. Wajahku panik hingga mengeluarkan banyak keringat. Aku pun turun perlahan dari kursi roda tua itu dengan bantuan tangan kiriku dan pohon di sampingku.
“Bruukkk.’’
Aku terjatuh dengan pergelangan tangan kananku yang tanpa daya ini tertekuk. Terasa sangat nyeri, namun kulupakan. Kucoba perbaiki kursi rodaku satu-satunya ini. Ya, pasti dengan tangan kiriku karena tangan kananku tak ada daya dan aku pun tak bisa berdiri karena dua tahun yang lalu ragaku terlibat peristiwa hebat di rel kereta api. Aku berjalan dengan kawanku pulang dari pusat kota dengan membawa gitar kecil atau yang biasa disebut kentrung di tangan kananku memakai pakaian kotor layaknya punk. Dengan Supri, teman sepermainanku dari kecil. Ia berkulit putih dan berbadan besar. Sekilas memang dia terlihat seperti preman. Namun, dia punya hati yang baik dan lemah lembut. kami berjalan berdua menyeberang rel kereta api karena gubukku berada di samping bawah rel kereta api itu.
‘’Ayo, ta, Pri! Cepet! Ini palang sepurnya gak turun, lho!’’ kataku dengan logat jawaku.
‘’Eh, bentar, lho! Siapa tahu rusak iku palangnya!’’ bantah Supri dengan logat jawanya pula.
Aku tak mempedulikan Supri dan langsung menarik tangan kirinya. Sewaktu berjalan di atas rel, aku berhenti sejenak karena kurasa mataku terkena sesuatu. Kucoba mengusap mataku. Terdengar suara bising dari samping kanan namun kuhiraukan. Sesaat aku pun sadar.  Aku kaget, kupandang asal suara itu sembari masih mengusap mataku. Terlihat samar-samar. Aku tak tahu kalau itu kereta api.
‘’Wahyu! Iku sepur! Minggir!’’ teriak Supri sembari menarik tanganku.
Aku tersentak dan segera melangkah dari rel namun sia-sia. Kakiku tertabrak dan tubuhku terseret 50 meter dari tempat tersebut. Tubuhku terpelanting dan terguling. Tangan kananku tertekuk dan patah. Aku pejamkan mataku tak mau melihat apa yang terjadi. Dan kurasa aku tak sadarkan diri.
Dua jam kemudian, aku sadarkan diri. Kulihat aku ada di ruangan bercat putih dan aku pun diselimuti kain berwarna putih jua. Terdapat selang di tanganku dan di atas hidungku. Tak ada seseorang di sisiku kecuali dia Supri. Kupandang wajahnya, terlihat dia seperti orang panik dan gelisah.
‘’Hai, Wahyu! Gimana awakmu?’’ kata Supri samar-samar di telingaku sembari membelai tanganku.
Aku tak menjawab hanya diam.
‘’Tadi kakimu tertabrak sepur! Awakmu mental 50 meter. Aku marani sampean, teriak-teriak minta tolong. Akibatnya, iku kakimu gak ada satu. Tanganmu patah. Badanmu lecet-lecet. Salahmu, sih,  gak denger aku! Ceroboh, sih, sampean!’’ kata Supri sembari membuka selimutku.
Aku tengok ke dalam, ternyata benar adanya. Kaki kananku, lenyap tak ada. Aku cacat. Aku tak percaya ini semua. Aku menjerit sekeras mungkin.
‘’Aarrrghhhhhhhhhh…..!!!!”
Kucoba mengangkat tangan kananku, namun tak bisa. Aku semakin keras menjerit. Tangan kiriku kuangkat perlahan dan menarik rambutku kuat-kuat.
‘’Aaaarrrgghhh….!!! Ya, Allah Gusti! Supri gimana iki! Supri!! Arrgghhh…!!’’ aku menangis dan berteriak sekeras mungkin.
Wis, wis! Sampeyan gak boleh gitu. Ini cobaan, Wahyu. Sampeyan seharusnya bersyukur masih hidup! Wis, wis!’’ hibur Supri sembari menurunkan tangan kiriku.
Aku berhenti mengamen di ibukota dan Supri-lah yang merawatku. Soal biaya rumah sakit aku tak tahu dan aku pun mana peduli. Namun, tiga bulan setelah aku pulang dari rumah sakit, Supri tiba-tiba saja pergi dari rumah susun ini tanpa kabar hanya meninggalkan secarik kertas yang berisi  tulisan :
Daa..daa Wahyu !!
Salam sayang,
Supri Arek Malang
Aku tak tahu itu berisi apa dan bertujuan apa. Supri sungguh tega tapi aku hutang budi dengannya. Baru pertama ini dia berani meninggalkanku dan sendiri, padahal dulu sering pergi berdua, bergandengan pula. Dan surat itu akan aku simpan.
Aku pun hidup sendiri dan apa-apa sendiri. Aku meninggalkan rumah susun itu dan bekerja ulur tangan di samping jalan. Sekitar dua bulan kemudian, aku tak lagi bekerja layak itu karena aku ditarik SATPOL PP dan dimasukkan ke pusat rehabilitasi di daerah ibukota bagian selatan dan hidup di sana sampai sekarang.
Aku terkaget saat kurasakan ada sentuhan di pundakku. Dan dengan rasa penasaran aku mencoba menolehkan mukaku ke belakang.
“Ada yang bisa saya bantu?” katanya.
Melihatnya aku tak bisa apa-apa. Matanya berbinar-binar. Suaranya lembut. Wajahnya mempesona bak Lady Diana. Badannya ramping tapi atletis, tinggi semampai. Rambutnya hitam panjang tergurai.
“Ayu tenan, Rek!” refleksku sembari terus menatapnya.
“Maksudnya?” tanyanya heran.
Dengan sigap segera aku benahi bajuku dengan tangan kiriku. Merapikan rambutku dan menampilkan wajah manis di depannya.
“Ehh…ehhh, nggak apa-apa. Cuma ada kesalahan teknis kok!” kataku berusaha dengan bahasa gaul anak zaman sekarang.
“Bisa aku bantu berdiri?” tawarnya sembari mengulurkan tangan kirinya.
Manteb iki!” kataku dalam hati.
Dengan tersenyum aku ulurkan tangan kiriku. Dia membalas senyumku dengan senyum manisnya. Dia bantu aku berdiri, dia rangkul punggungku dan itu buatku merinding, karena baru kali ini aku disentuh wanita yang amat cantik. Ya, bukan berarti dulu jelek-jelek.
Aku duduk di kursi rodaku. Tanpa basa-basi dia langsung mendorong kursi rodaku perlahan, membawakan kertas dan pensilku dan mengajakku mengelilingi taman kota. Tak terasa jantungku berolahraga. Berdegup sangat cepat. Aku malu dan sungguh sangat malu. Dan timbullah rasa tak percaya diri dalam diriku. Aku manusia yang sangat tak sempurna sedang berjalan-jalan dengan wanita cantik yang sangat sempurna.
Kupandang wajahnya, dan kutatap matanya dalam-dalam. Aku mencoba mencari perhatian darinya. Dan kurasa itu tak sulit. Ia langsung saja tersenyum kepadaku dan mengajakku berbincang-bincang.
“Rumah kamu dimana?” katanya.
“Aku tinggal di belakang taman.” jawabku singkat.
“Ke sini sama siapa?”
“Sendiri. Aku bosan di sana. Tak ada kerjaan, tak ada teman pula.”
“Terus ke sini mau ngapain? Sama saja di sini juga bosenin.”
Belum sempat menjawab, ia menghentikan lajunya dan berjalan tak jauh ke belakang. Kutengok, rupanya ia tengah berbincang-bincang lewat telepon genggamnya. Aku hampiri dia pura-pura tak tahu. Belum sampai di tempatnya, ia langsung membalikkan badan dan menghampiriku.
“Dari siapa?” tanyaku.
Nggak, nggak siapa-siapa, kok. Oh, ya, tadi disini tujuannya apa?” jawabnya.
“Oh, ini mau buat latihan nulis dengan tangan kiri. Aku mau coba buat puisi. Waktu SMP dulu aku, kan, juara lomba puisi. Mau aku coba kembangkan lagi.”
“Hmmm… ya, bagus ! Boleh, aku bantu? Kapan-kapan bisa, kok, aku pergi ke tempatmu.”
Aku hanya menjawabnya dengan tersenyum dan  menganggukan kepalaku. Dan dia menceritakan beberapa hal tentang pengalamannya, kehidupannya, dan keluarganya. Aku pun demikian. Dengan jujur, kuceritakan semua yang menimpa diriku. Mulai dari kecelakaan dulu, pekerjaanku yang hanya mengamen, dan keluargaku yang hilang entah kemana. Sebenarnya ada sedikit rasa malu pada diriku tentang semua itu. Sejak kecil aku memang terkenal dengan orang yang pemalu, walaupun perawakanku gagah dan wajahku sekilas terlihat sadis. Namun, bagaimana lagi? Aku tak ingin gadis cantik itu kecewa.
“Ehh..siapa namamu?” tanyaku malu.
“Oh, ya, lupa. Kita belum kenalan. Perkenalkan aku Putri.” jawabnya dengan mengulurkan tangan lembutnya.
“Namanya indah seperti wajahnya.” batinku.
“Ehh..ehhh, namaku Wahyu.” kataku dengan menganggukan kepalaku dan membalas jabatannya.
Kupikir Putri adalah gadis yang sangat baik. Mau berteman dengan siapapun tak memandang apapun. Buktinya, dia mau berteman denganku walaupun fisikku seperti ini. Tapi, aku juga tak tahu kehidupan Putri bagaimana dan aku berniat ingin mengenalnya lebih dekat. Sangat berharap untuk bisa menjadi orang istimewa di hatinya.
Dua tahun aku berteman dengan Putri. Tak terlihat hal aneh dan buruk darinya. Itu pun tak aku pikirkan. Karena aku hanya memikirkan kebaikan dari seorang Putri yang baru-baru ini telah meluluhkan hatiku.
Senja hari, seperti biasanya Putri datang ke tempatnya dengan membawa kue. Ia hari ini sungguh lain. Rambutnya yang biasanya terurai, hari ini di ikat setengah memperlihatkan ia wanita yang anggun dan kalem. Biasanya memakai baju bluss panjang, hari ini ia memakai celana jeans ketat putih dan tank top ditutupi dengan jaket kuning yang pas di badannya. Semua temanku memandang Putri dengan penuh gairah, seperti juga aku. Aku yang biasa malu dengannya, melihat penampilannya hari ini, aku seperti ditarik olehnya. Aku menjadi agresif dengannya, dan rasa maluku itu lenyap begitu saja. Dan aku berpikir, apa Putri seperti itu memang disengaja agar semua lelaki mengagumi tubuh indahnya? Kalau  begini terus keadaannya, lama-lama aku bisa juga muncul birahi dengannya.
“Hai, Wahyu! Gimana penampilanku hari ini? Cantik, kan? Oh, iya, bagaimana puisimu? Sudah selesai?” katanya sembari melingkarkan tangannya di pundakku.
Hatiku berdesir karena terlihat sesuatu dari tubuhnya. Dan aku pun tak mau melihatnya.
“Ya, Allah! Astagfirullahal’adzim. Paringana kekuatan, ya, Allah.” kataku perlahan dengan memejamkan mata.
“Hai, jawab Wahyu! Kagum, ya, kamu? Jangan malu-malu dirimu.” tanyanya sekali lagi dengan mendekatkan mulutnya ke telingaku.
Aku semakin takut dan terus memejamkan mataku. Lalu, aku berusaha tak menunjukkan rasa takutku dengan perlahan membuka mataku perlahan.
“Ehhh..ehhh, iya. Sudah, kok, aku ambilkan sebentar!” jawabku sembari menuju kamarku.
Lima menit kemudian, aku menemuinya yang tengah asyik berbincang-bincang dengan teman-temanku. Putri duduk di tengah-tengah mereka. Dan ia selalu menunjukkan sikapnya yang centil. Kulihat tingkahnya, muncul suatu hal dalam pikiranku. Apa itu dirinya sebenarnya?
“Ehm.” gumamku memecah suasana.
“Eh, Wahyu. Sudah, ya? Ayo, pergi ke taman!” katanya sembari menghampiriku dan memutar kursi rodaku.
“Daa..daa,  semuanya!” teriakknya dengan melambaikan tangan ke arah teman-temanku.
Dalam perjalanan, ia terus berbicara dan aku hanya diam tak menjawab sedikit pun kata darinya. Aku sedikit mual dengan sikapnya, namun, hati ini terus menginginkannya walau itu mustahil.
“Putri, berhentilah bersikap itu tadi! Aku tak suka.” kataku tak menatapnya.
“Kamu tak suka denganku? Kamu benci denganku? Maafkan aku !” katanya.
“Jangan sedih! Aku hanya menasihatimu! Aku suka kamu yang dulu. Anggun, kalem, baik hati. Berubah, ya, demi aku! Aku sayang kamu, kok.” kataku menghiburnya.
“Iya. Maaf, ya. Aku seperti ini karena aku pikir kau lebih suka dengan aku yang seperti ini.” katanya.
“Tidak, Putri. Aku suka dirimu, hatimu, dan sikapmu yang dulu. Karena itu semua telah meluluhkan hatiku. Kamu mau berbagi hidup denganku?” kataku dengan memberanikan diri.
Dia hanya menganggukkan kepala tanda bahwa dia setuju. Aku sangat bahagia. Aku bisa menggandeng gadis cantik sepertinya. Percaya diriku tumbuh lagi. Aku kini menjadi lelaki paling beruntung di dunia karena mendapatkan gadis seperti Putri. Dan mulai hari itu, Putri seperti dulu lagi dan aku menjalani kehidupanku dengan semangat baru karena Putri. Hatiku sudah terisi penuh dengan Putri seorang. Hidupku sudah berbeda lagi dan berubah karena Putri. Memang dialah gadisku.
Aku pun sangat bersyukur punya gadis seperti dia dan berkali-kali meminta doa kepada Yang Kuasa agar membuka hati Putri agar ia seterusnya mau bersanding denganku. Dan doa itu tak dikabulkan adanya.
 Baru satu tahun aku menjalani cinta dengannya, ia meninggalkanku begitu saja tanpa kabar. Aku berusaha mencarinya namun sia-sia.
Hampir-hampir saja aku tertabrak truk pasir karena ketidakkonsentrasiku karena aku hanya memikirkan Putri.
 “Putri, dimana dirimu, Sayang? Aku mencarimu. Datanglah sekarang!” batinku.
Aku datang ke beberapa orang, bertanya dimana Putri tinggal. Ada yang memberiku uang receh, ada yang menangisiku. Aku tak peduli, hanya Putri yang aku inginkan tidak itu semua.
Akhirnya aku beristirahat di depan di rumah besar berbentang janur kuning di depannya. Hatiku merasa tak tenang setelah aku melihat foto gadis dengan lelaki berpakaian pengantin di samping janur tersebut. Dan itu tak asing karena gadis itu adalah Putri dan lelaki itu kupikir dia Supri. Berbeda, terlihat di foto dia lebih putih dan gagah. Perlahan air mataku menetes. Dengan menumpuk rasa penasaran, aku masuk ke dalam rumah besar itu.
“Putrii…Putri…!” teriakku sembari menangis.
Penjaga di sana  melarangku untuk masuk tapi aku tak peduli. Berteriak dia dengan  sekeras mungkin. Memang bandannya tegap, dan gagah. Teriakannya lantang dan sikapnya keras.
“Kamu tak ada izin di sini ! Keluar gembel !” larang penjaga.
 Hanya satu yang aku pikirkan, yakni Putri. Semua tamu disana memandangku dengan terheran-heran. Penjaga menghalangi langkahku, menarik lengan bajuku hingga sobek di sisi kiri. Kubiarkan saja, terus aku melangkah. Tak peduli aku cacat, tak peduli banyak hinaan, dan tak peduli bajuku sobek compang-camping layaknya pengemis.
Ternyata dia benar Putri adanya. Dan disampingnya adalah sahabatku Supri. Aku benar-benar tak percaya. Aku terus meneteskan air  mata. Semua tamu memandang ke arahku sembari bertanya-tanya. Aku memutar kursi rodaku di tengah-tengah barisan tamu dengan menangis dan berteriak-teriak.
“Putri, aku sayang kamu, Putri. Mengapa kamu begini? Apa sebenarnya maumu?(aku terus menangis) Putri, kita sudah satu tahun menjalin hubungan. Kemarilah !” teriakku didepannya sembari membungkukkan tubuhku.
“Wahyu ! Apa yang kamu lakukan? Ini Putri istriku! Tak patut kau seperti ini.” bentak Supri.
“Supri kamu diam! Ini Putri pacarku. Kau pengkhianat Supri.” teriakku.
Aku terus menangis di hadapan mereka. Dan terdengar juga suara tangis dari tamu-tamu yang datang. Sepertinya mereka kasihan denganku.
“Wahyu, aku tak pernah mencintai orang cacat macam kamu. Tak pernah dan sekalipun tak pernah. Tak sudi aku punya lelaki cacat, dan miskin seperti kamu.” sindir Putri dengan mendorongku.
Aku jatuh ke belakang dan keluar dari kursi rodaku. Beberapa dari tamu itu membantuku kembali duduk di kursi roda. Di depan mereka, aku merobek puisi yang telah basah oleh air mataku. Aku meninggalkan neraka itu dibantu penjaga yang melarangku tadi. Dengan susah payah, dengan lelah, aku mengayuh dengan satu tangan kiriku.
“Pengkhianat kalian. Biadap !!” teriakku sembari keluar dari neraka tersebut.
Teringat itu semua. Terbayang masa semu dahulu yang tiba-tiba memeluk pikiranku.  Andaikan itu semua bisa terulang, akan kuulang. Namun, tak mau merasakan sakit itu. Andaikan bisa diubah, pasti kuubah. Namun, itu tak mungkin adanya.
“Ya, Allah Gusti! Berilah kesabaran ! Mengapa Kau beri cobaan yang sangat berat? Apa salahku, ya, Allah? Aku, kan, sudah sholat, bersujud, menyembahmu, berbuat baik, dan aku sudah beribu-ribu kali memuji-Mu, ya, Allah!” kataku di sela  tangis.
Aku menangis di balkon. Sebenarnya aku malu menangis terisak-isak seperti ini, disaksikan banyak kawan di belakangku. Awalnya aku tak mengetahuinya. Namun, setelah terdengar seseorang terisak-isak aku segera menolehkan wajahku. Terlihat Roni menundukkan kepalannya dan mengusap-usap matanya. Aku tak menduga, tubuhnya yang kekar dan berotot, sikapnya yang selalu kasar dengan siapapun bisa juga menangis. Apalagi hanya sebab kecil seperti ini. Aku segera membersihkan wajahku dari deraian air mataku.
“Wahyu, macam mana kau ini! Aku tak pernah menangis sekalipun. Sungguh  tega kau, Wahyu! Turun, lah, pangkatku jadi preman suku! Kau ini dari luar saja badanmu besar, tapi cengeng juga kau ini ! Sudahlah, jangan nangis ! Senyum.” kata Roni.
Aku pun tersenyum melihatnya. Demikian pula dengan kawan lainnya. Rasanya sakitku sedikit berkurang. Aku tak menyangka Roni begitu perhatian denganku. Roni menghiburku. Penghibur yang menghilangkan laraku. Melihat tawa mereka aku teringat Supri. Dia sahabat satu-satunya yang mengerti aku. Dia pun juga sahabat satu-satunya yang mengkhianatiku. Dan itu sekali kurasakan memang sangat perih. Kala teringat itu semua aku buka surat singkat Supri lalu. Kubaca hanya dua kata singkat. Rasa penasaranku memaksa naik, aku bolak-balik kertas itu dan kutemukan tulisan kecil di pojok kanan bawah. Kuamati dengan seksama tulisan itu yang ternyata berbunyi :
Supri ! Aku sudah dapat jodoh ! Aku orang kaya !
Aku tersentak dengan tulisan itu. Aku pun tak menduga Supri menulis kata-kata seperti itu dan mengapa harus ditulis di tempat terpencil di sudut kertas. Padahal, sejak awal bertemu dengan Putri, aku sudah yakin dia kasihku, dia cintaku, dan dia pemilik hatiku. Apalagi dengan Supri. Supri yang kukenal dulu tak pernah sekalipun menyakitiku, mengkhianatiku, bahkan membuatku menangis sampai seperti ini. Mereka memang pengkhianat. Berhati kotor, tak punya perasaan sedikitpun, dan hanya mengandalkan buai-buai omong kosong yang meluncur begitu saja dari mulutnya. Aku harus sabar dan tabah menghadapi ini semua, dan aku memang benar-benar sabar.
Dan aku pun berniat. Hingga esok, aku tak akan mengingatnya, mengasihaninya, bahkan memberinya senyum sedikitpun. Walau, masih tersisa titik cinta kecil di hati ini, aku harus menghapusnya. Dan kekelabuan itu akan kutelan walau dengan terpaksa.

No comments:

Post a Comment