Sunday, October 14, 2012

My First Love is My Greatest Betrayal

Debur ombak membuyarkan lamunanku. Semilir angin laut menyingkapkan kegalauan hatiku. Kutermangu seorang diri di sudut pesisir pantai. Ditemani rimbunan lambaian daun kelapa yang tersingkap sang bayu. Menanti sang surya kembali ke peradabannya. Dengan semburat sinar orange di singgasana angkasa. Aku tersenyum terbayang sosok pria yang seharusnya tak kulamunkan. Rupa nan menawan terbayang-bayang di anganku. Terlihat jelas di langit senja. Aku berpikir, tak pernah aku membayangkan sesosok pria hingga membuatku lupa akan segala sesuatu yang kuanggap itu sangat penting. Suara lembut sayup-sayup terngiang di telingaku membuat lamunanku pudar. Kubalikkan mukaku. Terlihat sosok wanita memanggilku dengan seorang pria di sisinya. Aku tersenyum manis. Segera kulangkahkan kaki menuju mereka berdua. Kutatap mata mereka. Terlihat binar kebahagiaan terpancar dari keduanya.
“ Hey, Vita, apa kabar ? “ sapa Lia sembari memelukku.
Dengan senyum di sudut bibir aku pun membalas pelukannya. Sesaat, kembali terbias wajah sesosok pria yang selama ini aku lamunkan. Mataku menyudut tajam ke arah mata indah seorang pria yang ada di sisi sahabatku. Bak melayang ragaku menatap indah matanya. Laksana bertemu sesosok pangeran idaman hati yang telah lama di nanti.
Hey, what are you think ?” bentak Lia memudarkan lamunanku.
“Ini Vino kekasihku, Vita. Vino, ini Vita sahabat terbaikku.”lanjutnya.
Pria itu menjulurkan tangan dan aku pun demikian. Terasa erat genggamannya. Serasa tak mau lepas darinya. Kutatap matanya dalam-dalam. Mencoba berbicara dengan hatinya. Menikmati sorot indah matanya dan erat genggamannya ternyata tak lama. Lia menarik jemari Vino dan tersenyum kepadaku. Kembali hanya kubalas dengan senyuman. Kami bertiga kemudian turun ke pesisir pantai. Berjalan bertiga tak membuat hatiku nyenyak. Hanya ingin berdua dengan pria itu. Jatuh cinta dengan pria yang sangat sempurna itu memang sulit rasanya. Lain dengan hatiku. Hanya sejenak menatap matanya, hati ini bak berkata cinta, berkata my first love. Aku tak memikirkan yang lain. Hanya pria itu yang kini ada di benakku.
Di sudut pantai kami singgah di bawah rimbuanan pohon kelapa dengan sorot lampu taman di kedua sisinya. Beribu kata atau berjuta kata entah berapa meluncur begitu saja dari bibir mereka berdua. Aku hanya membisu mendengarkan ocehan mereka yang tak disangka membuat hati ini menguap panas. Tak lama kemudian, aku terasa dirundung cemburu. Mataku yang sedari tadi menatap indah sang surya yang tengah kembali ke peradabannya, terpaksa berbalik arah tersudut menatap mereka berdua dengan bibir bergalut mesra di sisiku.Rasanya seperti nikmat saat pria itu mengecup sahabatku dan anganku tentang itu kubiarkan muncul begitu saja. Dengan bergalut dan melingkarkan tangan satu sama lain mereka sangat menikmatinya dan tak ada rasa malu sedikitpun dengan aku yang berada di sampingnya. Mungkin budaya Eropa selama dua tahun telah erat mendekapnya.
Tak kuat aku menatap itu semua dan bermaksud meninggalkan mereka berdua. Aku berdiri, namun dia tiba-tiba menarik tangannku dan mempersilakan aku duduk kembali menemani kekasihnya karena ia akan menemui bundanya sebentar.
Aku berpikir inilah kesempatan terbaikku. Aku berusaha menyita pandangannya dengan pakaian yang melekat di tubuhku dan wajah yang berada indah di kepalaku. Kusingkap perlahan dan sedikit beberapa guratan yang ada di rokku. Aku tersenyum dengan manis menatap metafora senja. Dan itu pun berhasil. Pria itu memandangku dengan mata indahnya yang berbinar-binar.
“Vita, boleh aku minta kontakmu ?” tanyanya dengan membalikkan tubuhku menghadapnya.
Aku tersenyum dan perlahan mengulurkan telepon genggamku ke arahnya. Tak lama kemudian pria itu mengembalikan telepon genggamku tersebut. Kembali kusingkap lebih pendek bajuku dengan maksud agar pria itu tergoda kepadaku. Mengejutkan, dan mengagetkan. Kubiarkan saja pria itu membelai lembut rambutku dan perlahan mengecup bibir manisku. Rasanya seperti di singgasana surga. Anganku yang baru saja terbayang ternyata telah terjawab dengan sempurna. Kurasa nafasku sesak dan kulepaskan kecupannya dari bibirku. Kulepaskan pelukannya dari tubuhku. Aku tersenyum kepadanya. Dia pun dengan manisnya membalas senyumanku. Tak lama kemudian ia kembali memeluk tubuhku dengan eratnya. Kubalas pelukannya dengan sangat erat. Bibirnya kembali mengecupku. Kupejamkan mataku. Di tengah indahnya senja, kedua insan saling berpagutan mesra seakan dunia hanya milik kami. Namun, aku tersentak saat tiba-tiba dia melepas kenikmatan itu semua. Ternyata sahabatku sudah berjalan dari jauh. Aku berpamitan kepada pria itu untuk pergi kembali ke penginapan dan aku berpesan menyampaikan hal tersebut kepada kekasihnya.
Langkahan kakiku begitu cepat. Diiringi senyum aku melangkah seorang diri. Terbayang-bayang apa yang baru saja aku lakukan dengan pria yang selama ini singgah dalam anganku. Kubaringkan tubuhku. Kutarik nafas perlahan. Kupejamkan mata senduku. Terbayang sosok pria itu kembali. Teringat peristiwa di sudut pantai di indahnya metafora senja. Terlelap aku dalam kebahagiaan raga dan jiwa. Berselimut mimpi yang kuharap muncul sosok pangeranku kembali.
Tak lama kupejamkan mata, terdengar suara dering telepon genggamku.  Sembari memejamkan mata. tanganku meraba mencari asal dering suara tersebut. Kubuka mata perlahan, terasa berat kurasakan. Namun, aku tersentak saat mengetahui kontak Vino pria itu sedang menelponku. Segera kubenahi diri.
“Hallo, Vita, ini Vino. Ada waktu luang bertemu denganku ?” tanya Vino samar-samar.
Aku tersentak mendengar kalimat yang telah meluncur dari bibir manis pangeranku. Rasa tak percaya perlahan muncul merambat ke ragaku. Seolah aku tak kuasa untuk menolak tawaran date pertama kali dengan lelaki pujaanku.
“Ii..iiya, ada kok. Sekarang ?” tanyaku gugup.
“Kalau bisa, ya, sekarang. Aku tunggu di Caffe Metta Dewata.” jawabnya.
“Iii..iiya, tunggu sebentar, ya.”
Segera kumatikan telepon dan bergegas mengambil handuk. Aku mengejar waktu. Ingin sekali rasanya  cepat bertemu dengan pria itu. Tak peduli apa pun itu. Kuriasa wajahku perlahan. Kupoleskan bedak di wajahku dengan merata. Kurias dan kurias wajahku sedemikian rupa. Kubelai perlahan rambutku. Kurapikan hingga rasa puas mendekapku. Tersenyum kepada pantulan ragaku sendiri. Segera kupilah gaun. Hingga pilihanku jatuh di gaun hitam yang kontras dengan kulit putihku. Gaun dengan bawahan di atas lutut, dan tanpa lengan serta melekat ketat indah di badanku sehingga terlihat bentuk tubuhku. Perlahan kulangkahkan kaki dengan senyum. Hati terasa berdebar-debar menemuii pangeranku. Gugup dan gugup.
Terlihat pria itu sedang menunggu di sudut caffe yang sunyi. Kuhampiri dia. Namun, terasa ragaku tak ingin menemuinya. Entah mengapa aku tak tahu. Terasa beku untukku berjalan menghampirinya. Kuhembuskan nafas perlahan dan rileks sejenak seraya memikir pria itu. Tanpa pikir panjang kendala itu dapat kuatasai. Kuhampiri dia dan perlahan singgah di sisinya.
Indah dan sangat indah. Pria itu menatap ragaku berbinar-binar sembari meluncurkan pujian pada penampilanku. Seraya terombang-ambing tubuhku di air surga. Aku sangat bahagia mendengar apa yang ia katakan. Canda tawa mengisi date terindahku malam itu. Sangat mengesankan ketika dia mengecup keningku seraya mengucap kata cinta dan sayang. Hatiku bergetar tak menentu.
Ough…! Thanks God ! My first love.” gumamku dalam hati.
“Vin, you are my first love.” kataku berbinar-binar.
Really ?” sentaknya.
Really.” jawabku tersenyum bahagia.
Ragaku benar-benar melayang. Terombang-ambing sang bayu di singgasana surga. Pangeran yang selama ini singgah dalam anganku, muncul begitu saja di pelupuk mataku. Menghiasi hati ini yang sunyi. Memberi kehangatan pada mata ini yang bergetar membeku. Mengisi kesunyian jiwa menunggu belaian mesra cinta yang sangat kunanti.
Hari-hari kujalani berdua. Tiada sedetikpun waktu yang lenyap tanpa senyum indah dia. Aku benar-benar tak mempedulikan apapun. Entah itu sahabatk, entah itu orang tuaku ataupun harga diriku. Hanya bayang-bayangnya yang mengelilingi pikiranku. Aku seperti terhipnotis dengan belaian mesra cintanya, senyum indahnya, dekapan rasa sayangnya. Pikiranku hanya tertuju pada satu orang yakni Vino pria pujaanku. Tak bisa aku lepas dari dekapannya. Tak bisa aku hilang dari anganku tentangnya, karena dia pria yang selama ini aku damba-dambakan. Hingga suatu saat karma itu mengikatku. Kehancuran hati. pudar cinta pertamaku. Ketika kuberpagut mesra di sudut pantai di dinginnya malam di sunyinya malam. Kenikmatan yang sudah biasa aku lakukan dengan pria sejatiku Vino terpaksa terpotong dan lenyap dengan kehadiran kekasih resminya Lia, sahabatku sendiri.
Deraian air mata mengalir dari lekukan wajah manis Lia tatkala menyaksikan insan yang sangat ia sayangi berpagutan mesra dengan sahabatnya sendiri. Sahabat sedari kecil, sahabat suka, sahabat duka, sahabat yang selalu mengerti mengkhianatinya. Sungguh ku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku..aku bingung, aku bodoh, aku…aarrghhhhh! Amarahku memuncak tatkala Lia mendaratkan tangannya dengan keras di pipiku. Mataku seolah menatap tajam melihatnya. Kubangkitkan ragaku. Kuhampiri dia yang tengah beraliran air mata. Kutengadahkan kepalaku. Kuacungkan telunjukku dan kudorong kuat-kuat muka lusuhnya.
“Lia..Lia ! Kenapa ? Marah, he ?(kudorong mukanya). Marah kau lihat aku mesra dengan kekasihmu. Hatimu ke mana ? Otakmu ke mana ? Pergi, ya, ke Laut ? Lihatlah kekasihmu, lelakimu, priamu yang sangat kau cintai butuh waktu. Tak hanya butuh perhatianmu, tak hanya butuh cintamu. Mana pengertianmu ? Lihatlah, berpaling, kan, dia denganku. Ini berarti aku lebih segalanya darimu. Lebih cantik atau lebih apalah. Busshhiittt…. cuih !” luapanku sembari menamparnya dan berludah di dadanya.
Sejenak Lia terdiam membisu. Demikian juga dengan Vino. Sedari tadi dia hanya terunduk lesu di bangku. Tak menyempatkan waktu sedikitpun untuk memandang kami yang tengah mamuncak amarahnya.
“Vita..Vita sahabatku dari kecil. Sahabatku…sahabatku ? Apa sahabat anjing ? Benar-benar kau ini. Sama aja dengan anjing. Seharusnya kau berpikir sebelum kau melakukan ini semua. Anjing, ya !” teriaknya sembari memegang pipinya dan meninggalkan ami berdua.
“ Hey… yang anjing itu kamu !” sahutku.
Aku tak memikirkan semuanya. Apa aku yang salah. Kuteguk dalam-dalam bir beberapa botol. Namun, tiba-tiba aku menangis. Teringat masa-masa indah bersama Lia. Teringat saat dia merelakan orang yang dia suka demi aku bahagia. Teringat saat dia mendekapku ketika aku menangis merasakan sakitnya hati. Aku jahat. Aku kejam. Sahabat suka, sahabat duka, sahabt yag selalu menemaniku tatkala aku tengah kesepian, sahabat yang mendekapku tatkala kusedih, dan sahabat yang rela berkorban demi aku bahagia lenyap karena keegoisanku. Lenyap karena kecerobohanku. Aku..aku…aku tak pantas hidup. Mengapa kulakukan ini semua. Aarrgghhhh…! Aku benar-benar menyesal. Mengapa kulontarkan kata-kata kasar kepadanya. Apa balasanku atas apa yang telah ia lakukan dulu kepadaku.
Sesaat kucari-cari benda yang sangat penting bagiku. Kudengarkan dendang lirih alunan suara kami tatkala kecil dengan iringan musik sederhana. Kunyanyikan perlahan dengan berderaian air mata. Tak lama aku bernyanyi, terdengar ketukan pintu. Kuberjalan dengan sempoyongan menghampiri pintu dan perlahan kubuka. Tak ada seseorang  di luar. Namun, saat kutundukkan kepalaku. Terlihat sepucuk surat berceceran darah. Kubuka surat itu perlahan.
Teruntuk,
Vita sahabat terbaikku.
Vita, maaf kata-kata kasarku tadi. Maaf sekali. Kamu benar, aku yang anjing. Aku tak bisa mengerti perasaanmu. Aku yang salah. Aku tak bisa mengerti apa mau Vino. Vita, kita sahabat. Kita sahabat selamanya. Aku yakin kita takkan terpisahkan. Tapi entah aku tak tahu. Mungkin sekarang atau beberapa menit bahakan jam lagi aku sudah berjalan menuju neraka karena menyakitimu Vita.
Vita ingat, kan, masa-masa dulu saat kamu menangis karena mantan kamu yang dulu ? Lucu banget , Vit. Ingin sekali aku tertawa tapi aku takut kamu marah. Tapi, saat aku menangis kemarin lucu juga, kan, bahkan lebih lucu dari kamu.
Jaga hatimu untuk Vino. Jangan lupakan aku, Vit. Aku sungguh menyayangimu. Mungkin kamu tidak. Tapi ini harapanku dari dulu. Bye to forever !
Tertanda,
Lia  
Sekejap segera kulangkahkan kaki berlari di tengah derasnya hujan. Aku yakin surat itu dari Lia. Aku yakin Lia masih hidup. Aku yakin Lia masih ada di dekatku. Aku menangis tak henti-henti. Terus berlari meneriakkan Lia, mencari Lia.
Aku tersentak. Rasa tak percaya mengelilingiku. Kulihat rombongan warga sedang berkerumun. Pikiranku sudah ke mana-mana. Apa itu Lia. Segera kupecahkan kerumunan itu dan kutemui sahabat yang aku sayangi berlumuran darah. Segera kupeluk erat-erat Lia.
“Lia… maafkan aku. Lia jangan pergi, Lia, maafkan aku. Aku benar-benar menyesal. Liaaa !! “ teriakku sembari menangis.
Aku benar-benar tak percaya ia tiada. Ini semua salahku. Aku sungguh sayang dia. Aku benar-benar menyesal. Sangat menyesal.

No comments:

Post a Comment